Minggu, 20 Desember 2020

Terus penasaran atau tuntaskan?

Kita ngelakuin perjalanan karena sebuah alasan. Karena tugas, pekerjaan, ketemu sama temen, sahabat, keluarga, pacar dan masih banyak lagi. Ada yang karena terpaksa ada yg nggak. Atau emang karena seneng aja ngelakuinnya. Sebuah perjalanan selalu mengajarkan sesuatu. 

Dan siang itu saya melakukan sebuah perjalanan yang nggak pernah kepikiran kalau pertemuan pertama itu saya merasakan jatuh hati pada pandangan pertama sama kamu. Skenario Sang Pencipta emang nggak bisa di tebak, bisa - bisanya saya jatuh hati sama kamu saat itu, padahal ngobrol panjang sama kamupun belum pernah. Bahkan dihari itu kita cuma tegur sapa biasa, kamupun nanggepin saya dengan cara yang biasa aja malah terkesan jutek ke saya. Tapi saya seneng lihat cara kamu ngomong, tingkahmu yang kaku, ekspresi wajahmu hmm.

Saya kira kamu sepantaran dengan saya, ternyata di tahun itu kamu baru lulus SMP hahaha, iya 2016 itu baru kamu lulus SMP.
Bahkan pertemuan pertama kita ketemu itu kamu telat datang rapat karena habis cap 3 jari di sekolah mu. Sebagai lelaki yang ngga cemen-cemen amat, saya coba lawan rasa penasaran itu, saya cari tau apa sosmed mu sekalian cari tau hatimu masih kosong atau sedang dikontrak beberapa waktu sama laki-laki pujaanmu saat itu.

Akhirnya saya dapat sosmed IG mu, tapi nggak ada tanda-tanda statusmu saat itu. 
Saya cari info ke kawan, ternyata jawabannya ada laki-laki yang sedang mengontrak dihatimu. Duh 3P ya pedih, perih, pedes dengernya hahaha.

Sepulang dari rapat itu saya langsung save nomer kamu yang ada di dalam grup, tapi 3 tahun saya nggak pernah lihat kamu pakai poto profil, mungkin saat itu poto profilmu hanya kamu perlihatkan untuk kontak yang kamu save. Sejak whatsapp update fitur Snap/story sampai 2019 kamu nggak pernah lihat story whatsapp saya, saya juga ga pernah lihat kamu update itu. Mungkin kamu belom save nomer saya, bahkan pernah suatu ketika saya chat kamu tapi kamu balas "ini siapa?"
Aduh... Nahan kesel sebenernya, tapi mesti hela nafas buat terima kenyataan hahah karena saya ngga bisa paksa kamu untuk save nomer saya, hehehe soalnya kenal banget aja belom.

Perjalanan itu terus berlanjut dengan kamu yang masih sama dia, dan saya yang masih sendiri mengexplore tiap sudut perjalanan saya. 3 tahun itu saya pernah beberapa kali lihat kamu sedang jalan berdua di area gereja atau postingan sosmedmu, rasa ingin melupakan perasaan ini sering muncul tapi entah kenapa selalu nggak pernah mau pergi seutuhnya perasaan ini. 
Ya ngga munafik, memang beberapa kali saya pernah suka sama wanita lain, tapi saya nggak pernah bisa merasakan apa yang saya rasakan ke kamu, hati saya rasanya selalu ingin pulang ke "rumah" yang masih terkunci untuk saya. Jadi yaaaa setengah hati kalo nggak sama kamu.

Tapi gapapa, saya selalu cerita sama Gusti Allah kalau kamu memang bukan untuk saya, semoga Gusti Allah memberikan yang terbaik. Saya nggak mau menaruh harapan besar dan tinggi di kamu, tapi saya menaruh harapan saya rapat-rapat di setiap doa agar cuma saya dan Sang Maha Pendengar yang tau.

Di 2020 ini tahun ke lima saya masih bertahan menaruh dan menyimpan harapan itu rapat-rapat. Nggak tau kenapa kamu selalu bisa bikin saya jatuh hati, padahal kelihatannya kamu jutek, judes, cuek dan galak. Saya yang keras kepala atau memang kamu diciptakan untuk menguji kesabaran dan kekuatan saya?

Tapi entah saya harus bersyukur atau menyesal punya rasa ini sama kamu, 5 tahun saya cuma bisa ngerasain ini sendirian dan kamu malah jadi teman saya. Salah saya juga sih kenapa sejak kamu cerita saya selalu setia dengerin cerita kamu. Sok care tapi tiap kamu cerita apa aja pasti dalem hati senyum-senyum sendiri  hahaha cerita seneng/sedih tentang organisasi gereja, kuliah, tugas, temen apapun pasti saya selalu setia dengerin.
Tiap kamu cerita selalu saya selalu dengerin & responsif, dari yang seneng, sedih, penting sampe ga penting. Tapi waktu saya cerita kamu terlalu cuek, bahkan cuma ngasih reaksi yang retorik. Contohnya kaya cuma "yaaaah, wkkwkw, oke" 
5 tahun ini juga rasanya saya jadi banci perasaan dari seorang perempuan bernama ........... *eitsss masa nyebut merk. Ntar ketauan dong
Oiya, 29 februari 2020 kemarin pertama kalinya kita boncengan ya heheh. Boncengan di malem minggu dari gereja sampai dirumahmu sambil diguyur gerimis mengundang heheh. Saya ingat betul tanggal langka yang adanya 4 tahun sekali itu rasanya jadi spesial. Lebay nggak sih? Kalo lebay ya maaf hahah habisnya apapun yg ada di kamu selalu spesial buat saya. 
Di 2020 ini juga kayaknya kamu baru ngesave nomor saya ya? Gapapa, itu aja udah cukup kok. 

Jujur, pas kemarin kamu tiba-tiba kirim foto wajah kamu ke saya, saya seneng banget. Karena saya tau kamu nggak sembarangan pap begitu ke orang. 
Belakangan ini kamu juga banyak cerita, sayapun senang. Bahkan foto pertama yang kamu kirim itu langsung saya cetak ukuran 3x4, supaya bisa saya masukkan ke dalam dompet hahah. Maaf ya saya belun izin ke kamu.

Di 2020 ini saya ngerasa saya lebih bisa mengenal kamu lebih dekat dan akrab, ternyata dibalik muka judes dan jutekmu kamu manis dan cantik. Pasti banyak ya yang naksir sama kamu? heheh canda naksir. Kamu yang selalu tampil all out dan berusaha seperfeksionis saat melakukan apapun, rasanya kamu selangkah lebih maju dari saya, kamu juga lebih dewasa dalam berfikir. 
Saya juga sadar, saya belum ada dan belum ada apa-apanya

Sejujurnya saya selalu mau jujur & bilang ke kamu tentang semua yang saya rasain selama ini. Sebenarnyapun berat memendam perasaan ini sendirian selama itu. Tapi saya takut kalau saya bilang ini semua kamu malah berubah, menjauh atau bahkan pergi dari saya. Jujur saya takut kehilangan kamu yang di 2020 ini mengalami banyak perubahan positif, saya takut kehilangan semuanya dari kamu, iya setakut itu saya.

Saya nggak tau pada akhirnya nanti hati & ragamu untuk saya atau bukan, kamu takdir & pilihanNya buat saya atau bukan. Tapi saya janji sama diri saya sendiri, suatu saat nanti saya akan bilang & jujur semuanya ke kamu. Semoga waktunya tepat & responmu sesuai keinginan saya. 
Saya juga janji, nanti saya siap kalau kamu berubah, ngejauh bahkan saya juga siap kehilangan kamu kalaupun kamu nanti nggak terima sama apa yang saya katakan. Saya siap terima semua resikonya dr kamu, apapun.

Karena resiko mencintai adalah disakiti, sedangkan resiko dicintai adalah menyakiti

Semoga yang terbaik untuk kita. Amin 🙌🙌

Rabu, 10 Juni 2020

Selamat dan semoga berbahagia wanita terindahku

Selamat ulang tahun wanita tercantik ku, wanita hebat ku, wanita kuat ku dan wanita yang paling ku sayang. Hari ini tanggal dan bulan yang sudah ibuk lewati 54 kali dalam hidupmu, banyak peristiwa yang sudah kau lalui.

Doaku semoga sehat selalu, panjang umur, bahagia jasmani dan rohani mu. Semoga akupun sehat selalu, agar aku bisa masih diberi waktu oleh Sang Maha Kehidupan untuk membanggakanmu, membahagiakanmu dan menggantikan apa yang selama ini udah ibuk kasih buat aku, meskipun apa yang sudah ibuk kasih buat aku ga akan pernah ada takaran yang tepat untuk menghitung apa dan seberapa besar yang udah ibuk kasih buat aku.

Maafin juga kalo sampe sekarang masih suka nyusahin ibuk, belom bisa bikin bangga dan masih sering nyusahin. Meskipun kadang rempong & nggak jelas, apapun itu aku bangga sebangga bangganya punya ibuk seperti ibuk.
Sekali lagi selamat ulang tahun wanita terbaikku. Tuhan memberkati

Kamis, 23 April 2020

Semoga.......

Saat kita senang, bahagia dan jatuh cinta terkadang kita melupakan banyak hal. Salah satunya adalah hati yang selalu ingin jatuh tanpa jeda,
Ketika mencintai begitu dalam, sadarmu seolah hilang dan tenggelam didasar rasa nyaman yang ternyata berhasil membuatmu tenggelam, iya tenggelam. 

Pada dasarnya, 
dia yang mudah menyakitimu, sudah tidak layak untuk dipertahankan
dia yang tidak perduli denganmu, tidak pantas kamu tangisi
dia yang mengekangmu dan tidak membebaskan keinginanmu, sudah tidak layak bersamamu.

Matamu melihat begitu jelas, telingamu mendengar begitu keras
kulitmu merasakan luka begitu perih
memorimu pun merekam begitu pilu.
Katamu, bertahan lebih menyakitkan daripada merelakan.
jangan sampai jatuh ke dalam lubang dan kesalahan yang sama, menyakitkan bagimu.
Bagiku juga.

Sadarlah, sudah berapa lama matamu melihat dirimu tersakiti?
Sudah seberapa sering telingamu mendengar nada tinggi dan tamparan darinya?
Sudah seberapa kuatkah kulitmu menahan perih? 
Sudah seberapa kuat memorimu merekam banyak kejadian pilu untuk dirimu?
Hey! Sadar.... Masihkah kau terus melukai dirimu sendiri?

Bibir anggunmu pernah melontarkan sebuah kata sambil menggerenyitkan dahi
"Tapi, bukankah kebahagiaan dibentuk dan dicari dari diri sendiri?" 
ya, tentu saja, Dirimupun berhak mencari dan membentuk kebahagiaanmu kemanapun sejauh kakimu menjelajah dengan caramu sendiri.
Tapi jurang licin didepan sana masih sama seperti jurang sebelumnya. 
Aku senang jika sedikit terselip bahagiamu karenaku, bahkan jika bahagiamu karena dia aku akan tetap berusaha senang, didepanmu saja.

Raut wajahmu, ekstasiku
Meracuni jaringan otakku
Intonasi suaramu,
Memercikan euforia untuk telingaku
Semua eskpresi wajahmu, 
Memberikan fantasi,


Namun semua anganku untukmu
semua hanya ilusi tak bertepi.

Semoga bahagia dengan caramu membahagiakan dirimu sendiri.