Ketika mencintai begitu dalam, sadarmu seolah hilang dan tenggelam didasar rasa nyaman yang ternyata berhasil membuatmu tenggelam, iya tenggelam.
Pada dasarnya,
dia yang mudah menyakitimu, sudah tidak layak untuk dipertahankan
dia yang tidak perduli denganmu, tidak pantas kamu tangisi
dia yang mengekangmu dan tidak membebaskan keinginanmu, sudah tidak layak bersamamu.
Matamu melihat begitu jelas, telingamu mendengar begitu keras
kulitmu merasakan luka begitu perih
memorimu pun merekam begitu pilu.
Katamu, bertahan lebih menyakitkan daripada merelakan.
jangan sampai jatuh ke dalam lubang dan kesalahan yang sama, menyakitkan bagimu.
Bagiku juga.
Sadarlah, sudah berapa lama matamu melihat dirimu tersakiti?
Sudah seberapa sering telingamu mendengar nada tinggi dan tamparan darinya?
Sudah seberapa kuatkah kulitmu menahan perih?
Sudah seberapa kuat memorimu merekam banyak kejadian pilu untuk dirimu?
Hey! Sadar.... Masihkah kau terus melukai dirimu sendiri?
Bibir anggunmu pernah melontarkan sebuah kata sambil menggerenyitkan dahi
"Tapi, bukankah kebahagiaan dibentuk dan dicari dari diri sendiri?"
ya, tentu saja, Dirimupun berhak mencari dan membentuk kebahagiaanmu kemanapun sejauh kakimu menjelajah dengan caramu sendiri.
Tapi jurang licin didepan sana masih sama seperti jurang sebelumnya.
Aku senang jika sedikit terselip bahagiamu karenaku, bahkan jika bahagiamu karena dia aku akan tetap berusaha senang, didepanmu saja.
Raut wajahmu, ekstasiku
Meracuni jaringan otakku
Intonasi suaramu,
Memercikan euforia untuk telingaku
Semua eskpresi wajahmu,
Memberikan fantasi,
Namun semua anganku untukmu
semua hanya ilusi tak bertepi.
Semoga bahagia dengan caramu membahagiakan dirimu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar